Mahasiswa Pulang Kampung

 Pulang kampung merupakan momen terindah bagi para mahasiswa yang sedang dan baru menempuh study di luar kota atau luar pulau bahkan, terutama bagi para mahasiswa baru yang sebelumnya tidak pernah meninggalkan rumahnya dalam kurun waktu lama (merantau). Moment pulang kampung bukan saja dimanfaatkan untuk temu kangen pada sanak famili yang sudah ditinggal beberapa bulan namun juga moment yang digunakan sebagai ajang membanggakan orang tua mereka kepada para tetangga karena anaknya sudah kuliah di perguruan tinggi di luar kota, “Kuliah dimana ?” tanya tetangga ketika baru pulang kampung kepada para maba, “ITS surabaya pak/bu !”, jawabnya dengan besar kepala.

Sarjana Kampung

Harapan masyarakat terhadap para “sarjana kampungnya” untuk memperbaiki kampung dalam semua aspek, kesehatan, pendidikan, ekonomi lambat laun sudah menghilang. Problem utama masyarakat saat ini adalah advokasi dan pergaulan, saya ulang sekali lagi “Problem masyarakat saat ini adalah advokasi dan pergaulan”. Mungkin anda tidak sependapat dengan saya dengan argument panjang lebar dan detail, masalah ekonomi kesehatan dan pendidikan mungkin sudah lebih baik acuan ideal saya adalah orde baru yang kelam meskipun sekarang ini belum bisa dibilang masa kejayaan, paling tidak hal ini yang tampak di masayarakat kita. Pendidikan gratis (meskipun LKS dan buku-buku masih bayar), kesehatan gratis (meskipun pelayananya masih kurang), Beras gratis (meskipun menurut saya 90% salah sasaran).

Butuh Keberanian

Advokasi, beberapa kali saya dengar permasalahan tanah yang berbelit didesa menjadi permaslahan sosial masyarakat yang mencerminkan kebrobokan administrasi di kampung. Bukan lagi rahasia umum untuk mengurus akte jual beli tanah supaya segera diselesaikan harus memberikan pesangon/uang pelicin pada aparatur desa apabila anda menginginkan cepat diurus/diselesaikan, suatu kali pernah seorang teman yang dipersulit dalam mengurus akte tanahnya di kantor kecamatan, karena hal itu teman tersebut mengancam akan mempublikasikan kinerja anggota kecamatan tersebut ke media, akhirnya aparatur yang mempersulit proses akte jual beli tanah tersebut meminta maaf dan memohon supaya tidak di sorot ke media. Permasalahan simple seperti ini yang terkadang diabaikan sehingga menjadi penyakit masyarakat.

Beberapa hari lalu saya jaga malam di rumah sakit paman saya yang sakit batu ginjal, saya menunggu di depan kamar pasien dari sore hingga pukul 5 pagi, sepanjang malam saya perhatikan tingkah para petugas rumah sakit yang kebutulan ruangannya tidak jauh dari ruangan paman saya dirawat, beberapa orang yang senasib dengan saya (menjaga orang orang sakit) datang ke kantor untuk meminta infus baru, anehnya sekitar pukul 2 dini hari pintu kantor ditutup dan lampu dimatikan sehingga orang yang datang enggan dan merasa sungkan untuk mengetuk pintu, sehingga pada saat itu saya katakan kepada orang-orang yang dengan pelan  dan sabar dari depan pintu yang setengah tertutup memanggil-manggil  petugas yang sedang tidur didalam kantor “gedor saja pak pintunya !!” agak emosi , mugkin para petugas piket tersebut istirahat, namun kenapa pintu ditutup (setengah tertutup) dan lampu dimatikan ? . Seharusnya mereka juga beristirahat didekat pintu sehigga apabila ada orang yang datang tidak susah untuk membangunkan mereka.

 Pendidikan Mental

Belum lama ini ada urusan organisasi di vila pacet dengan beberapa kader bangsa yang siap untuk untuk di tempa mentalnya untuk bersama-sama berjuang untuk kepentingan mustadafiin, ketika melihat sedang survey di daerah sekitar lokasi pelatihan kader tersebut saya melihat beberapa anak usia SMP sedang cangkruan di warung pada jam sekolah, tanpa ada rasa tanggung jawab mereka bercanda tawa dengan teman mereka. Potret kejadian seperti itu mungkin merupakan hal biasa disekitar anda, melihat beberapa anak yang bolos atau tidak mau bersekolah dan memilih menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Apakah tepat semua anak di Indonesia ini hanya diberikan pendidikan formal saja, informal (bukan kegiatan extra sekolah) merupakan menu wajib bagi mereka. Di Surabaya saya melihat ada beberapa LSM yang melakukan pendampingan kepada para pelajar untuk belajar dari alam dan mengenal lebih dekat kondisi ekosistem yang tercemar, mereka diajak untuk melakukan test/uji kualitas perairan di sungai, menyusuri sungai dan melihat limbah yang mencemari sungai. Ada juga sekolah yang memberlakukan system full day school, dari pagi hingga sore mereka di bawah pengawasa guru. Dari beberapa metode pembelajaran informal tersebut yang terpenting adalah mental harus di buat bukan saja prestasi tinggi yang diharap, banyak orang pintar di Indonesia namun sedikit yang memiliki mental seperti genting. Genting adalah sebuah tanah yang sabar dan tabah di tempa sehingga mampu mengayomi masyarakat, berbeda dengan tanah yang lain, karena selain diinjak-injak genting juga di bakar. Penedidikan gratis tidak akan berguna apabila mental para peserta didik yang tidak tertata, pendidikan gratis di Indonesia hanya akan menceta para koruptor-koruptor baru, apabila masalah mental tidak diperhatikan.

Budaya sungkan tetangga masih melekat di benak beberapa orang, meskipun sudah jauh dari kampong halaman dan hijrah di kota besar. Budaya sungkan terkadang saya lihat tidak pada tempatnya, beberapa bulan yang lalu deda saya mendapat jatah beras gratis dari pemerintah daerah, saya tidak akan membahas tentang apa tujuan dibalik pembagian beras namun yang saya lihat adalah pada level masyarakat bawahpun juga aktif melakukan KKN dengan alasan sungkan, beras yang mestinya oleh pejabat desa diberikan hanya kepada orang yang benar-benar miskin karena sungkan dengan warga lain maka beras tersebut diberikan kepada warga lain yang memiliki tingkat ekomi tinggi. Mental pejabat desa yang tidak terdidik secara baik akan menyebabkan KKN. Mental yang tidak terbina dengan baik akan menumbuhkan benih-benih korupsi.

 

4 Responses to “Mahasiswa Pulang Kampung”

  1. Deanoen Says:

    syiiip bang… ^^
    oleh karenanya,, mari galangkan pendidikan berkarakter mulai dini! betul..betul..betul…

  2. admin Says:

    Kalo boleh saya tambahkan, pengenalan nasionalisme sejak dini juga perlu.

  3. dee Says:

    iki a mas yang kau maintenance?

  4. admin Says:

    Menyusul untuk yang berikutnya, masih di edit sebelum di posting mas.

Apa Komentar Anda...?

3 + 9 = Hayo berapa ???