Archive for the ‘Kampus’ Category

Mahasiswa Pulang Kampung

Jumat, Mei 25th, 2012

 Pulang kampung merupakan momen terindah bagi para mahasiswa yang sedang dan baru menempuh study di luar kota atau luar pulau bahkan, terutama bagi para mahasiswa baru yang sebelumnya tidak pernah meninggalkan rumahnya dalam kurun waktu lama (merantau). Moment pulang kampung bukan saja dimanfaatkan untuk temu kangen pada sanak famili yang sudah ditinggal beberapa bulan namun juga moment yang digunakan sebagai ajang membanggakan orang tua mereka kepada para tetangga karena anaknya sudah kuliah di perguruan tinggi di luar kota, “Kuliah dimana ?” tanya tetangga ketika baru pulang kampung kepada para maba, “ITS surabaya pak/bu !”, jawabnya dengan besar kepala.

Sarjana Kampung

Harapan masyarakat terhadap para “sarjana kampungnya” untuk memperbaiki kampung dalam semua aspek, kesehatan, pendidikan, ekonomi lambat laun sudah menghilang. Problem utama masyarakat saat ini adalah advokasi dan pergaulan, saya ulang sekali lagi “Problem masyarakat saat ini adalah advokasi dan pergaulan”. Mungkin anda tidak sependapat dengan saya dengan argument panjang lebar dan detail, masalah ekonomi kesehatan dan pendidikan mungkin sudah lebih baik acuan ideal saya adalah orde baru yang kelam meskipun sekarang ini belum bisa dibilang masa kejayaan, paling tidak hal ini yang tampak di masayarakat kita. Pendidikan gratis (meskipun LKS dan buku-buku masih bayar), kesehatan gratis (meskipun pelayananya masih kurang), Beras gratis (meskipun menurut saya 90% salah sasaran).

Butuh Keberanian

Advokasi, beberapa kali saya dengar permasalahan tanah yang berbelit didesa menjadi permaslahan sosial masyarakat yang mencerminkan kebrobokan administrasi di kampung. Bukan lagi rahasia umum untuk mengurus akte jual beli tanah supaya segera diselesaikan harus memberikan pesangon/uang pelicin pada aparatur desa apabila anda menginginkan cepat diurus/diselesaikan, suatu kali pernah seorang teman yang dipersulit dalam mengurus akte tanahnya di kantor kecamatan, karena hal itu teman tersebut mengancam akan mempublikasikan kinerja anggota kecamatan tersebut ke media, akhirnya aparatur yang mempersulit proses akte jual beli tanah tersebut meminta maaf dan memohon supaya tidak di sorot ke media. Permasalahan simple seperti ini yang terkadang diabaikan sehingga menjadi penyakit masyarakat.

Beberapa hari lalu saya jaga malam di rumah sakit paman saya yang sakit batu ginjal, saya menunggu di depan kamar pasien dari sore hingga pukul 5 pagi, sepanjang malam saya perhatikan tingkah para petugas rumah sakit yang kebutulan ruangannya tidak jauh dari ruangan paman saya dirawat, beberapa orang yang senasib dengan saya (menjaga orang orang sakit) datang ke kantor untuk meminta infus baru, anehnya sekitar pukul 2 dini hari pintu kantor ditutup dan lampu dimatikan sehingga orang yang datang enggan dan merasa sungkan untuk mengetuk pintu, sehingga pada saat itu saya katakan kepada orang-orang yang dengan pelan  dan sabar dari depan pintu yang setengah tertutup memanggil-manggil  petugas yang sedang tidur didalam kantor “gedor saja pak pintunya !!” agak emosi , mugkin para petugas piket tersebut istirahat, namun kenapa pintu ditutup (setengah tertutup) dan lampu dimatikan ? . Seharusnya mereka juga beristirahat didekat pintu sehigga apabila ada orang yang datang tidak susah untuk membangunkan mereka.

 Pendidikan Mental

Belum lama ini ada urusan organisasi di vila pacet dengan beberapa kader bangsa yang siap untuk untuk di tempa mentalnya untuk bersama-sama berjuang untuk kepentingan mustadafiin, ketika melihat sedang survey di daerah sekitar lokasi pelatihan kader tersebut saya melihat beberapa anak usia SMP sedang cangkruan di warung pada jam sekolah, tanpa ada rasa tanggung jawab mereka bercanda tawa dengan teman mereka. Potret kejadian seperti itu mungkin merupakan hal biasa disekitar anda, melihat beberapa anak yang bolos atau tidak mau bersekolah dan memilih menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Apakah tepat semua anak di Indonesia ini hanya diberikan pendidikan formal saja, informal (bukan kegiatan extra sekolah) merupakan menu wajib bagi mereka. Di Surabaya saya melihat ada beberapa LSM yang melakukan pendampingan kepada para pelajar untuk belajar dari alam dan mengenal lebih dekat kondisi ekosistem yang tercemar, mereka diajak untuk melakukan test/uji kualitas perairan di sungai, menyusuri sungai dan melihat limbah yang mencemari sungai. Ada juga sekolah yang memberlakukan system full day school, dari pagi hingga sore mereka di bawah pengawasa guru. Dari beberapa metode pembelajaran informal tersebut yang terpenting adalah mental harus di buat bukan saja prestasi tinggi yang diharap, banyak orang pintar di Indonesia namun sedikit yang memiliki mental seperti genting. Genting adalah sebuah tanah yang sabar dan tabah di tempa sehingga mampu mengayomi masyarakat, berbeda dengan tanah yang lain, karena selain diinjak-injak genting juga di bakar. Penedidikan gratis tidak akan berguna apabila mental para peserta didik yang tidak tertata, pendidikan gratis di Indonesia hanya akan menceta para koruptor-koruptor baru, apabila masalah mental tidak diperhatikan.

Budaya sungkan tetangga masih melekat di benak beberapa orang, meskipun sudah jauh dari kampong halaman dan hijrah di kota besar. Budaya sungkan terkadang saya lihat tidak pada tempatnya, beberapa bulan yang lalu deda saya mendapat jatah beras gratis dari pemerintah daerah, saya tidak akan membahas tentang apa tujuan dibalik pembagian beras namun yang saya lihat adalah pada level masyarakat bawahpun juga aktif melakukan KKN dengan alasan sungkan, beras yang mestinya oleh pejabat desa diberikan hanya kepada orang yang benar-benar miskin karena sungkan dengan warga lain maka beras tersebut diberikan kepada warga lain yang memiliki tingkat ekomi tinggi. Mental pejabat desa yang tidak terdidik secara baik akan menyebabkan KKN. Mental yang tidak terbina dengan baik akan menumbuhkan benih-benih korupsi.

 

Kita Masih Belum Merdeka (VOC = MNCs)

Rabu, Maret 28th, 2012

 Indonesia dijajah kemudian merdeka, dulu dijajah oleh persekutuan pedagang belanda yang menyebut diri mereka VOC, sekarang bukan satu Negara yang menjajah tapi lebih parah sampai multinasional. Dulu orang Indonesia dipaksa untuk kerja tanpa bayaran (rodi) dan kini juga masih berlangsung di papua bukan VOC tapi Freeport, bagaimana tidak, mereka memaksa warga untuk menambang emas ditanah mereka sendiri namun yang menikmati hasilnya adalah Amerika Serikat. Masih banyak contohnya para VOC modern (baca: neokolonial) yang bebas mengambil kekayaan Indonesia seperti PT Newmont Minahasa (tambang), ExxonMobil (Migas), Chevron (Migas), Petro China (Migas), PT Indo Tambangraya Megah (Batubara), PT Singlurus Indonesia Lanna (Batubara) dan masih banyak lagi dari sektor pertambangan, dari sektor pangan seperti usaha ritel juga di kuasai oleh VOC modern yang di sebut dengan MNC (multi national corporation) atau PMN (perusahaan multi nasional).

 

MNC merupkan VOC garis keras, Multinasional (MNCs) sebagai perusahaan yang mempunyai kedudukan di suatu negara tetapi beroperasi dan menjalankan perusahaannya berdasarkan hukum-hukum dan kebiasaan – kebiasaan negara lain (David E. Lilienthal, 1960). Rokok dji sam soe yang biasanya saya hisap adalah miliki MNC Philip Morris (Amerika Serikat) dan sekarang saya lebih sering merokok Djarum dari pada Dji sam soe, bukan karena Djarum tidak termasuk MNC tapi karena lebih murah (bukan promosi).

 

Idealisme anti neoklonialisme, bukan berarti kebencian membabi buta, membeli bukan berarti mendukung, bekerja bukan berarti membantu, segalanya harus disikapi dengan fikiran jernih, kita hidup di Indonesia bagaikan berdiri di tengah padang rumput yang bijinya mudah menempel pada kain celana. Perlu hati-hati supaya tidak terlalu banyak biji rumput yang menempel di celana sehingga  menyebar ke tempat lain dan berpotensi untuk tumbuh menyebar ke segala tempat, minimal anda tahu bahwa biji yang ada di celana anda berpotensi untuk menumbuhkan padang rumput di tempat lain.

Undang-undang dirubah guna mempermudah pihak asing masuk ke Indonesia, saya analogikan seperti peraturan seorang RT dalam sebuah perumahan yang memperbolehkan pemulung masuk ke dalam lingkungan warga supaya, dengan alasan mereka membantu meringankan warga terutama bagian kebersihan komplek dalam  membersihkan sampah, namun bisa jadi pemulung nakal akan mencuri barang milik waraga ketika warganya lengah dan tak sadar. Kasus pencurian dan kehilangan barang terjadi karena peraturan RT setempat memperbolehkan pemulung masuk lingkungan warga, seperti itulah yang disebut dengan Negara pesanan. seperti halnya freeport ingin masuk maka undang-undang tentang investor asing masuk di permudah dan di beri izin untuk beroprasi puluhan tahun di Indonesia.

Sudahkah negara kita ini merdeka dengan kenyataan seperti paparan diatas, perlukah ada perayaan hari kemerdekaan pada tanggal 17 agustus ?. MNC bukan hal baru namun mengembangkan dan memperluas sektor apa yang telah dicapai oleh VOC, secara logika VOC hanya mengambil SDA dari sektor perkebunan (palawija) yang menjadi sasaran, MNC telah mengasai segalanya dari apa yang anda makan, apa yang anda makan dan minum apa yang anda kendarai, apa yang anda lihat dan dengarkan, apa yang anda kenakan, hingga apa yang anda pencet (komputer dan handphone). Konsep negara pesanan bukan hanya sekedar mempermudah akses masuk segerombol pencuri masuk dan mencuri secara terang-terangan namun juga mengganggu keimanan. Saat ini ramai istilah anak alay yang terkadang juga “ngondek“, sekarang saya sering melihat fenomena “boy like girl” apakah ini pesanan dari negara barat untuk mengakui eksistensi mereka, kemudian mengakui bahwa mereka berbeda, kemudian mengakui hak-hak mereka, hingga mensahkan perkawinan sesama jenis ?, semoga saja tidak.